–Desa Tarumajaya di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung mampu menghasilkan 300 ton kopi dalam bentuk ceri per tahun. Melihat potensi tersebut, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Cerdas Tarumajaya mengharapkan adanya kolaborasi dengan Koperasi Merah Putih (KMP) ke depannya, untuk melakukan pendampingan bagi petani kopi khususnya terkait pelatihan pascapanen.
Bukan tanpa alasan KIM Cerdas Tarumajaya menginginkan adanya pelatihan pascapanen dari KMP bagi para petani kopi di desanya. Sebab, para petani kopi tersebut belum bisa memanfaatkan potensi ceri kopi yang mereka hasilkan hingga 300 ton per tahun tersebut sehingga tak bisa mendapatkan keuntungan lebih untuk kemandirian ekonomi mereka.
Ketua KIM Cerdas Tarumajaya, Uus Kusmana mengatakan, mayoritas petani kopi di Desa Tarumajaya menggunakan sistem tumpang sari dan masih menggunakan cara-cara tradisional dalam pengolahan kopi mereka. Tapi yang khusus menangani kopi seperti anggota KIM itu tidak lebih dari 50 orang.
“Jadi kebanyakan itu mereka nanam kentang misalnya lalu ada juga kopinya, jumlahnya itu sekitar 500 orang petani. Jumlah kopi dalam bentuk ceri yang keluar dari Desa Tarumajaya saja, kalau tidak gagal panen, mencapai 300 ton per tahun. Itu potensi besar, bandingkan dengan ceri hasil KIM yang hanya 6 ton per tahun. Makanya, ke mana itu kopi ceri yang 300 ton per tahun dari Desa Tarumajaya?” ujarnya ketika ditemui di Sapochi Coffe, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Selasa 4 November 2025.
Lebih lanjut Uus menegaskan, karena tidak mampu mengolah kopi secara profesional, maka harga kopi dalam bentuk ceri yang dijual para petani kopi Desa Tarumajaya tersebut dibanderol sangat murah yakni hanya Rp 16 ribu per Kg.
Jika Koperasi Merah Putih atau KMP bisa meningkatkan kemampuan petani kopi dengan melakukan pelatihan pascapanen, maka kualitas kopi yang dihasilkan mereka tentu bisa memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi.
“Itulah kenapa harus menyiapkan SDM dari sistem budidayanya. Kalau temen-temen muda sudah terlatih dalam pengolahan kopi, lalu Koperasi Merah Putih sudah memegang anggarannya untuk menjalankan produksi ini, maka bisa memajukan semua petani kopi di Desa Tarumajaya. Nanti kami yang urus produksinya,” kata Uus yang juga merupakan Wakil Ketua KMP Desa Tarumajaya.
Ia juga menuturkan, desanya memiliki potensi lokasi pengolahan dan pengembangan kopi yang cukup strategis, karena ada di lokasi peninggalan Citarum Harum serta sudah memiliki kantor KMP yang definitif.
“Luas kebun kopi di sini itu bukan 1 atau 2 hektar, sangat luas. Sekarang tinggal bagaimana anak-anak mudanya mau serius atau tidak. Sebenarnya mah potensi di keluarga masing-masing juga sudah ada 10-20 pohon, tinggal belajar saja. Kalau mereka mau belajar serius dan tahu hasilnya seperti apa, pasti akan mendalami pengolahan kopi ini,” ucapnya menambahkan.
KIM Cerdas Tarumajaya saja sekarang punya 2 hektar lahan kopi yang mereka kelola secara mandiri dan sudah mendapatkan keuntungan dari mengolah tanaman kopi tersebut. Seluas 1 hektar mereka tanami varietas kopi Yellow Catimor, lalu 1 hektar lagi varietas Lini S dan Ateng Super.
“Sekarang kita mau nambah lagi 5 hektar untuk targetannya. Karena memang kebutuhan kopinya semakin tinggi,” kata Uus lagi.
Ia mengatakan, menjadi petani kopi itu merupakan pekerjaan yang santai tapi menghasilkan uang. Mareka tak perlu tiap hari pergi ke kebun untuk menyiram tanaman meski di musim kemarau sekalipun.
“Dalam 1 tahun itu, 3 bulan kita melakukan pendangiran (menggemburkan tanah-red.). Urusan panen, tinggal keringkan, diproses lalu disimpan di gudang. Dijual kering saja, mau cari duit sekitar Rp 5 juta per bulan mah gampang. Sekarang begini, saya jual kopi paling murah dalam bentuk roast bean itu Rp 300 ribu per kg. Yang paling mahal itu yang Yellow Catimor Rp 700 ribu per kg. Sedangkan dalam bentuk ceri seperti yang banyak dilakukan petani di sini itu hanya Rp 16 ribu per kg,” kata Ketua KIM Cerdas Tarumajaya lagi.
Itulah mengapa, pelatihan pascapanen bagi petani kopi harus ditingkatkan guna meningkatkan nilai jual produk yang dihasilkan.
“Tidak perlu belajar ke luar. Harus menyiapkan SDM (Sumber Daya Manusia-red.) untuk kemajuan dan kemandirian ekonomi petani kopi Desa Tarumajaya,” ucap Uus menegaskan.
Permintaan Kopi ke KIM Cerdas Tarumajaya Cukup Tinggi
Pada kesempatan itu, Uus Kusmana mengatakan permintaan kopi ke KIM Cerdas Tarumajaya yang sudah memiliki brand sendiri yakni Sapoci (Sapopoe Cikopi) Coffe cukup tinggi.
“Untuk pemasaran, brand itu sudah jauh ya. Kalau bubuk sama kopi mentah itu dulu kita suplai ke Jakarta ABCD (ABCD School of Coffee-red.), lalu ke Anomali Kopi. Tapi sama saya di cut, karena kebutuhan kami di lokal gak cukup. Kebutuhan kami di cafe saja kalau ramai atau tidak musim hujan itu 2,5 Kg per hari. Jadi kami kekurangan,” tuturnya.
Oleh karena itu, Uus mengatakan ke depannya ia akan berkoordinasi dengan KMP karena potensi dan juga pasar Kopi Gunung Wayang dari desa mereka ini sudah terpetakan dengan baik.
“Jadi kerjasama dengan Koperasi Merah Putih dalam rangka menyiapkan bahan kopi, tapi bukan untuk KIM, melainkan untuk pasar yang mencari kopi ke kami. Sapoci Coffee sendiri sudah mandiri untuk menyediakan bahan kopi. Namun permintaan dari luar cukup banyak dikarenakan brand kami sudah cukup dikenal, maka penyediaan bahan kopi untuk permintaan dari luar tersebut yang kami butuhkan dari keberadaan Koperasi Merah Putih,” tuturnya menjelaskan.
Untuk dukungan Pemerintah Desa dan juga Diskominfo Kabupaten Bandung selama ini sudah sangat cukup. Karena dari awal KIM Cerdas Tarumajaya berdiri mereka tidak mengharapkan bantuan apapun.
“Kami sebagai komunitas mau mengangkat Desa lebih baik melalui informasi-informasi. Tentunya yang dulu terhambat kita buka kerannya agar masyarakat tahu. Jadi tidak terlalu berharap bantuan dari pemerintah, karena secara mandiri temen-temen KIM sudah punya penghasilan dan mandiri secara ekonomi,” kata Uus lagi.
Keberadaan Koperasi Merah Putih atau KMP diharapkan menciptakan lebih banyak warga Desa Tarumajaya mandiri secara ekonomi dengan pelatihan pascapanen.
“Jadi, ketika nanti memproduksi dari ratusan ton kopi tersebut, mereka bisa menjaga kualitas. Kalau petani kopinya sudah terdidik, mereka sudah tahu mana kualitas kopi yang bagus mana yang tidak. Karena mereka masih secara tradisional, baru KIM saja yang serius mulai dari teknik pendangiran, pemupukan yang benar, penyetekan yang baik, karena informasinya jelas,” ucap Uus.
Oleh karena itu, ia sangat berharap adanya perubahan kualitas SDM khususnya petani kopi Desa Tarumajaya melalui pendampingan yang bekerjasama dengan Koperasi Merah Putih atau KMP untuk menciptakan kemandirian ekonomi dengan potensi yang dimiliki secara lebih baik.***

Post a Comment for "Potensi Kopi 300 Ton per Tahun, KIM Cerdas Tarumajaya Harapkan KMP Beri Pelatihan Pascapanen pada Petani Kopi"