zmedia

Bau Sampah RDF Rorotan "Menghantui" Warga Jakarta...

JAKARTA, Warga Kembali menolak keberlanjutan pabrik pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, usai dua kali uji coba selalu menimbulkan bau menyengat.

Bau busuk tersebut diduga sebagai pemicu 23 anak di Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Jakarta Timur, yang jaraknya sekitar 800 meter dari RDF Rorotan mengalami sakit Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) hingga infeksi mata.

Ketua RT 14, RW 14, Cakung Timur, Joni, menyebut tak mau lagi memberikan kesempatan terhadap pengoperasian RDF Rorotan karena dari uji coba sudah mendatangkan banyak korban.

Di sisi lain, Joni juga mempertanyakan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dari RDF Rorotan yang sampai saat ini belum juga bisa ditunjukan ke warga yang terdampak.

"Kita udah kasih enam bulan kesempatan, masa selama enam bulan enggak bisa bebenah. Perusahaan ini melanggar aturan, AMDALnya ada enggak? AMDAL belum ada udah dibangun, setelah kita ributin baru bilang ada AMDAL, kita tagih mana bilangnya lagi diperbaiki kan itu pembohongan publik," ucap Joni saat diwawancarai di Perumahan JGC, Selasa (4/10/2025).

Joni juga menilai, keputusan membangun RDF Rorotan di tengah pemukiman warga merupakan langkah yang salah.

Sebab, perumahan warga sudah ada lebih dulu dibandingkan dengan pabrik tersebut sehingga seharusnya pembangunan dipertimbangkan dan mengutamakan keselamatan penduduk di sekitarnya.

"Ini kan pemukiman ada dulu, baru baru RDF ada, masa kita yang disuruh ngalah, kalau gitu enggak apa-apa Pemprov beli aja rumah sini. Secara ekonomi jatuh loh. Masalahnya, kalau dijual juga udah enggak ada yang mau beli," sambung Joi.

Warga lain bernama Esra (38) juga meminta agar RDF Rorotan tak dilanjutkan beroperasi dan ditutup secara permanen. Sebab, sejak adanya pabrik pengelolahan sampah itu, putranya selalu jatuh sakit.

"Saya minta ditutup, kita di sini duluan. Sebelum ada RDF anak saya enggak apa-apa, batuk, ya, batuk musiman biasa itu pun lima hari sembuh, ini sampai berbulan-bulan masa mau diulang lagi," tutur Esra.

Boikot pabrik

Untuk diketahui, sampah yang diolah menjadi RDF nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar salah satu pabrik semen yang memang sudah terikat perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta.

Dengan adanya RDF, maka pabrik semen tersebut tidak akan lagi menggunakan diesel ketika menjalani proses produksi. Pasalnya, bahan bakar RDF sendiri memiliki kekuatan setara dengan batu bara.

Oleh karena itu, jika Pemprov Jakarta tetap memaksakan RDF Rorotan beroperasi demi bisa menyuplai bahan bakar ke pabrik semen tersebut, maka warga tak akan tinggal diam.

"Kami sih sepakat, ya, untuk memboikot produk semen dari pabrik tersebut, kita akan gerakkan untuk boikot semen itu karena menggunakan itu bahan dari RDF yang itu menimbulkan dampak dan kerugian di warga," ucap Ketua RT 18, RW 14, Klaster Shinano, JGC, Jakarta Timur, Wahyu Andre, Selasa.

Mulai hari ini, kata Wahyu, warga di Perumahan JGC yang ingin melakukan renovasi rumahnya tidak lagi akan menggunakan semen dari pabrik yang bergantung bahan bakarnya pada RDF.

Bagi Wahyu, pemboikotan ini penting dilakukan karena pengelolahan sampah di RDF Rorotan belum sempurna dan mendatangkan penderitaan bagi warga di sekitarnya.

Percaya RDF bisa ditutup

Wahyu juga percaya bahwa pabrik pengelolahan sampah tersebut bisa ditutup nantinya karena uji cobanya terbukti selalu merugikan warga.

"Kedua, apa sih yang enggak mungkin, RDF itu dibangun dari pajak yang warga bayarkan, dari pinjaman juga, harusnya sejak awal pendirian dan AMDAL kami dilibatkan," tutur Wahyu.

Sampai hari ini, kata dia, warga belum pernah diperlihatkan AMDAL dari pihak pengelola. Padahal Wahyu sudah memintanya secara berulang kali baik itu hanya dengan lisan atau secara resmi melalui PPID.

Wahyu bilang, setiap kali ditagih pihak pengelolah selalu menyebut AMDAL-nya sudah ada, namun masih harus diperbaiki.

"AMDAL lamanya aja lihat deh enggak dikasih juga, sekarang kalau pemerintah ingin menegakkan aturan, kalau perusahaan swasta ingin bangun pabrik aja AMDAL dulu kan . Setelah AMDAL baru mereka bikin pabriknya," tegas Wahyu.

Desak audiensi

Wahyu bilang, berbagai cara akan dilakukan oleh warga agar RDF Rorotan tidak dilanjutkan beroperasi. Salah satunya adalah mendesak adanya audiensi dengan Gubernur Jakarta Pramono Anung.

"Saya waktu itu pernah chat Pak gubernur dan dibalas langsung oleh beliau responnya bagus," tutur Wahyu.

Wahyu mengaku, Pramono bersedia untuk audiensi dengan warga terdampak. Namun, ia meminta agar Wahyu menghubungi staffnya terlebih dahulu agar dicarikan waktu yang pas.

Namun, sampai saat ini, Wahyu belum mendapatkan kepastian kapan audiensi dengan Pramono tersebut bisa segera digelar.

"Sampai hari ini belum ada jawaban terus warga kami berpikir mungkin kami bukan prioritas kali ya. Kesehatan warga kami tuh dianggap ah biasa lah cuma ISPA, gitu kali, ya," ucap Wahyu.

Demo di Balaikota

Jika tak ada respon lanjutan dari Pramono, warga terdampak sepakat melakukan unjuk rasa di depan Balaikota Jakarta pada 10 November 2025 nanti.

Wahyu juga memprediksi massa yang akan datang di Balaikota nantinya akan lebih besar dibandingkan demo pertama di depan RDF Rorotan pada bulan Maret 2025 kemarin.

"Kemarin sekitar 500-an ya, mungkin sekarang ini tiga kali lipatnya," ungkap dia.

Sebab, kata Wahyu, akan ada warga dari beberapa wilayah baru yang akan bergabung. Seperti dari Summarecon Gading Crown, Tambun Permata, Sungai Kendal Rorotan, dan Ujung Menteng Meatland yang pada aksi pertama belum ikut turun ke lapangan.

Namun, karena bau sampah uji coba RDF Rorotan yang kedua ini sampai ke daerah mereka, maka warganya pun berniat untuk ikut berdemo.

Tak hanya itu, jika sudah didemo namun pemerintah tetap bersih keras mengoperasikan RDF Rorotan, maka warga akan mengambil langkah hukum ke depannya.

Pramono hentikan uji coba

Pramono Anung meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DMI menghentikan sementara uji coba fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan.

Pramono mengatakan penghentian dilakukan sampai pemerintah menyiapkan armada truk yang tertutup rapat agar air lindi tidak kembali menetes di jalan.

“Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk sementara commissioning-nya dihentikan terlebih dahulu, dipersiapkan sampai dengan adanya truk yang compact yang bisa membawa sampah ke Rorotan,” ucap Pramono saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2025).

Pramono menjelaskan sumber bau bukan berasal dari proses pengolahan di fasilitas RDF. Melainkan dari pengangkutan sampah yang masih menggunakan armada yang tidak tertutup rapat.

Akibatnya, air lindi berceceran di jalan dan menimbulkan bau tidak sedap.

“Yang menjadi masalah adalah ketika sampahnya kemudian dilakukan mobilisasi atau pengangkutan, truknya itu tidak compact, sehingga air lindinya tumpah. Inilah yang menyebabkan bau,”kata Pramono.

Pada dasarnya, kata Pramono, warga sekitar tidak menolak keberadaan fasilitas RDF.

Namun keluhan bau baru muncul dalam beberapa hari terakhir ketika curah hujan meningkat dan sampah yang diangkut dalam kondisi lebih basah.

“Masyarakat sendiri sebenarnya, ini kan udah berlangsung hampir tiga minggu lebih, hampir satu bulan, tetapi baru kurang lebih 2, 3 hari terakhir ketika curah hujannya tinggi, sampahnya kemudian mengalami lebih basah dan angkutannya air lindinya tumpah ke mana-mana,” kata Pramono.

Bisakah RDF ditutup dan dipindah?

Pengamat Tata Kota Agus Pambagyo menilai, untuk memindahkan RDF Rorotan cukup sulit untuk dilakukan mengingat keterbatasan lahan di Jakarta.

"Enggak ada, lokasinya dimana? karena kan itu dibuat dekat dengan pabriknya. Jadi, sekarang Pemprov memikirkan ini gimana ada enggak tempatnya, apa mau dari sana Bantargebang kan kejauhan, jadi itu musti dipikirkan," ucap Agus.

Agus juga menilai, untuk menutup RDF Rorotan akan sulit karena Pemprov Jakarta sudah terikat Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan salah satu pabrik semen yang menjadi pembeli bahan bakar hasil dari olahan sampahnya tersebut.

"Mereka sudah bikin perjanjian, jadi mereka sudah bikin PKS (Perjanjian Kerjasama) dan di Rorotan agar dekat dengan pabriknya," kata Agus.

Untuk mengubah lokasi RDF Rorotan, kata Agus, sudah sulit untuk dilakukan. Pemprov Jakarta hanya bisa memperbaikinya dengan teknologi canggih agar pengoperasiannya tak lagi menimbulkan bau dan diprotes warga.

Agus juga menyarankan agar teknologi RDF Rorotan bisa meniru seperti pabrik pengelolahan sampah di Jepang yang tidak menimbulkan bau, meski berada di perumahan warga.

"Nah, itu bagaimana jika pakai teknologi, duitnya ada tidak? enggak bisa gusur terus pindah ke sana, orang tanahnya enggak ada," tegas dia.

Post a Comment for "Bau Sampah RDF Rorotan "Menghantui" Warga Jakarta..."

banner
banner